Pick-Up Topics

“Otaku tidak bisa menikah” adalah anggapan yang jauh dari kenyataan.

Citra seperti apa yang Anda miliki saat memikirkan tentang “otaku”?

Secara fakta, banyak gambaran tentang otaku yang negatif dan gambaran ini terus bertahan hingga beberapa waktu yang lalu, seperti “idak populer di kalangan wanita,” “tidak berpakaian bagus,” “tidak bisa berbicara dengan orang lain sambil bertatap mata,” dan “memilih mengunci diri di rumah”. Tapi sekarang, otaku tidak terbatas pada pria yang belum menikah saja. Tentu saja, ada juga otaku perempuan, dan ada juga otaku pada orang yang sudah menikah. Yang pasti, populasi otaku saat ini meningkat.

Untuk pria dan wanita yang belum menikah pada rentan usia 20-an hingga 50-an, dibuat perkiraan populasi otaku melalui cara mengalikan persentase “orang yang mengidentifikasikan diri sebagai otaku” dengan populasi penduduk Jepang menurut sensus yang diadakan pada tahun 2015, maka didapat hasil populasi otaku yang berusia 20-an hingga 50-an ada sekitar 14,3 juta jiwa, yang merupakan 23% dari total populasi seluruh Jepang sebanyak 61,8 juta jiwa.



Pasar otaku telah berkembang ke tingkat yang tidak bisa diabaikan.

Tentu saja, ada otaku yang masih berusia belasan tahun dan juga yang lebih dari 60 tahun, jadi total populasi otaku sebenarnya lebih banyak lagi. Rasio otaku berdasarkan gender didapat hasil yang hampir rata yaitu 53% untuk pria dan 47% untuk wanita. Sedangkan jumlah otaku yang belum menikah ternyata lebih sedikit dari jumlah otaku yang sudah menikah dengan rasio 44% yang belum menikah dan 56% yang sudah menikah.

Tingkat pernikahan otaku pria adalah 45% (60% untuk tingkat pernikahan semua orang pada kelompok umur yang sama), dan tingkat pernikahan otaku perempuan adalah 55% (70% untuk tingkat pernikahan semua orang pada kelompok umur yang sama), tetapi memang tingkat pernikahan otaku masih lebih rendah dari pada non-otaku. Namun demikian, terlalu berlebihan untuk mengatakan seseorang tidak bisa menikah atau tidak memiliki romansa hanya karena orang tersebut seorang otaku.

 

Sehubungan dengan peningkatan populasi otaku, “pasar otaku” kini telah berkembang secara signifikan ke tingkat yang tidak dapat diabaikan. Menurut survei yang dilakukan oleh Yano Research Institute, dari berbagai pasar yang berhubungan dengan otaku, didapat data pasar anime atau animasi mencatat penjualan sebesar 310 miliar yen, pasar idol mencatat penjualan sebesar 255 miliar yen, pasar manga atau komik mencata penjualan sebesar 442,5 miliar yen, dan pasar game online mencatat penjualan lebih dari 1,1 triliun yen pada tahun 2019 di pasar Jepang dan kini masih terus berkembang.

Untuk lebih mudah dibayangkan maka sebagai perbandingan kita ambil pasar makanan ringan pada tahun 2018 berdasarkan statistik penjualan yang paling banyak disukai masyarakat Jepang yaitu pasar kembang gula dan permen adalah sebesar 436,1 miliar yen, dan pasar coklat adalah sebesar 537 miliar yen. Melalui pembanding ini, maka bisa dilihat seberapa besar “pasar otaku” tersebut di Jepang.

Jika kita berbicara mengenai pasar idol, metode bisnis grup idol AKB48 yang dilakukan oleh Yasushi Akimoto menjadi cara bisnis yang sukses dan selalu terlintas di kepala para pebisnis Jepang. Cara yang digunakan dalam penjualan CD yang dipadukan dengan kupon untuk bisa bertemu langsung dan berjabat tangan dengan member favorit dan kupon untuk bisa mengikuti pemilihan umum member favorit yang dikenal dengan Sousenkyo telah membuat pasar idol bergeliat serta mendapatkan perhatian yang besar, meskipun ada pro dan kontra dalam menanggapi cara penjualan ini. Selain itu, di tahun 2012, saat memasuki masa kejayaannya, AKB48 pernah merajai lima lagu teratas dalam 10 besar peringkat penjualan CD single tahunan di Jepang.

Jika dikupas, pasar idol sebagian besar terdiri dari penjualan musik, harga tiket live, dan penjualan barang idol, yang dikatakan sebagai penjualan produk, dengan angka penjualan pasar sebesar 255 miliar yen yang disebutkan di atas hanyalah yang tercatat dalam penjualan tersebut. Namun, konsumsi otaku idol tidak terbatas pada konsumsi penjualan produk langsung mereka. Bisa dikatakan, mereka menghabiskan uang paling banyak untuk konsumsi tidak langsung seperti biaya transportasi dan biaya akomodasi. Pengeluaran ini merupakan konsumsi mereka saat menonton konser langsung dari idol populer yang diadakan di seluruh negeri, sehingga mereka akan mengikuti pertunjukan dan mengikuti tur nasional untuk dapat tetap mendukung idol favorit mereka.

 

Akibatnya, biaya untuk konsumsi barang tidak langsung tersebut adalah yang paling mahal daripada biaya membeli CD dan tiket. Sebaliknya, otaku idol merupakan orang yang lebih banyak orang menghabiskan uang untuk biaya perjalanan mereka dibandingkan non-otaku yang suka bepergian sekalipun.

Otaku juga berkontribusi pada ekonomi Jepang

Kontribusi otaku pada ekonomi Jepang berlaku tidak hanya untuk otaku idol saja, tetapi juga termasuk otaku yang menyemangati berbagai pertandingan olahraga seperti baseball sebagai olahraga terfavorit di Jepang dan sepak bola, karena dukungan penggemar terhadap klub atau tim tertentu serta atlet-atlet yang tergabung didalamnya tidak berbeda dengan dukungan otaku idol terhadap member idolanya. Oleh karena itu, meskipun ukuran pasar idol adalah 255 miliar yen, sebenarnya jumlah uang yang benar-benar mereka sumbangkan untuk perekonomian Jepang akan mencapai 500 hingga 600 miliar yen hanya dengan konsumsi langsung kepada para idola mereka.

Jika berbicara lebih lanjut, selain idol, otaku memiliki berbagai bidang yang diminati seperti anime, manga, game, cosplay, kereta api, pelatihan otot, komputer, dan masih banyak lagi bidang tertentu yang bisa dicintai hingga mendalam. Menurut sensus maka setengah dari otaku adalah orang yang sudah menikah, tetapi apakah ada perbedaan dalam “bisa atau tidak bisa menikah” karena perbedaan di bidang yang dicintai, yang seringkali disebut sebagai atribut otaku?

Untuk medalami hal ini, telah diadakan pendataan untuk menghitung status perkawinan untuk setiap bidang otaku. Pertama-tama, dari sudut pandang otaku laki-laki, maka otaku mobil atau sepeda dan cosplay-lah yang memiliki tingkat status perkawinan kurang lebih sama secara keseluruhan. Yang pertama paling meyakinkan dan mengejutkan adalah otaku cosplay ternyata adalah yang memiliki status perkawinan yang tinggi.

Namun, jika dilihat dari segi psikologis dan karakteristik, cosplayer adalah hobi yang menarik perhatian publik dengan dirinya sebagai model / subjek. Dalam pengertian tersebut, maka seorang cosplayer dapat dianggap sebagai pria atau wanita yang percaya diri dengan daya tarik yang mereka miliki. Maka persentase mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain serta berbaur dalam sebuah kelompok sangatlah besar. Di sisi lain, jika membicarakan status perkawinan terendah di antara otaku pria, maka peringkat pertama adalah otaku doujin dengan angka 29%, peringkat kedua adalah otaku idol dengan angka 34%, dan peringkat ketiga adalah otaku Anime dan Manga dengan angka 40%. Konon, kebanyakan lebih dari 50% otaku memiliki status perkawinan. Serta sering kali tidak terduga, ternyata banyak otaku laki-laki yang sudah menikah.

Hal yang unik didapat jika melihat dari sisi otaku wanita, karena didapat persentase tingkat pernikahan yang lebih tinggi di antara semua otaku wanita adalah otaku kereta api dan komputer. Keduanya adalah hobi dengan citra yang kuat bahwa terdapat banyak otaku pria di bidang tersebut. Ditarik sebuah kesimpulan kenapa tingkat pernikahan yang tinggi di bidang ini kemungkinan karena jumlah otaku wanita di bidang ini sedikit sehingga mpersentase mereka bisa mendapatkan pasangan yang sehobi lebih tinggi. tetapi karena jumlah absolut kutu buku wanita tersebut kecil, mungkin malah sebaliknya. Meskipun pada kenyataannya mereka tidak menjadi otaku untuk tujuan bisa menikah, tapi ini adalah hasil yang menarik.

Di sisi lain, jika mencari bidang otaku wanita dengan status perkawinan yang rendah, maka peringkat pertama adalah otaku idol dengan angka 39%, peringkat kedua adalah otaku atau dukungan tim baseball dan sepak bola dengan angka 45%, dan peringkat ketiga adalah otaku Anime dan Manga dengan angka 47%. Baik bagi pria maupun wanita, otaku yang kecanduan idol dan Anime tampaknya memiliki status perkawinan yang rendah.

Membicarakan mengenai pernikahan di Jepanng, maka kita akan terbawa kepada cerita “orang yang belum menikah kurang bahagia daripada orang yang sudah menikah” dan “pria yang menikah kurang bahagia daripada wanita” yang seringkali menjadi topik di berbagai media di Jepang yang untuk beberapa alasan, menjadi gambaran nyata tentang pria di Jepang yang belum menikah dan bagaimana status tersebut berhubungan dengan harga diri yang rendah dalam kehidupan sosial di negara tersebut. Mari kita kesampingkan persoalan sosial yang pelik ini dengan tidak memperhatikan detilnya lebih jauh, tapi bagaimana dengan kebahagiaan para otaku yang belum menikah?

Kebahagiaan para otaku ternyata sangat tinggi

Di sini kita membandingkan kebahagiaan semua orang yang belum menikah, otaku yang belum menikah, dan orang yang belum menikah yang saat ini memiliki kekasih untuk perbandingan. Dibandingkan dengan kebahagiaan semua orang yang belum menikah, kebahagiaan otaku 10% lebih tinggi pada pria di semua kelompok umur. Ini hampir sama dengan kebahagiaan “orang yang belum menikah dengan kekasih” saat ini, dan bahkan berdasarkan pendapatan tahunan, kebahagiaan otaku lebih tinggi daripada orang yang belum menikah dengan pendapatan tahunan 5 juta yen, di atas rata-rata pendapatan tahunan. Dengan kata lain, jika berbicara tentang pria, maka dapat dikatakan menjadi otaku = kebahagiaan. Hal ini hampir sama untuk otaku wanita, dan dapat dikatakan bahwa otaku memiliki rasa kesejahteraan yang tinggi.

Adalah keliru untuk menyimpulkan bahwa “tidak menikah itu tidak bahagia” dan “pria yang belum menikah bahkan lebih tidak bahagia”. Karena baik mereka yang belum menikah atau memiliki kekasih, jika mereka memiliki hobi yang dapat mereka lakukan dan cintai, maka mereka akan menjadi cukup bahagia. Sehubungan dengan kebahagiaan, tingkat kebahagiaan berbeda-beda tergantung pada atribut otaku secara individu. Ada tiga jenis kebahagiaan yang 1,2 kali lebih tinggi daripada kebahagiaan keseluruhan bagi pria dan wanita, yaitu otaku idol, otaku gulat profesional, dan otaku atau pendukung tim baseball atau sepak bola. Hal ini didapatkan karena kesamaan yang mereka miliki, yaitu perasaan “mendukung seseorang”, dimana mereka akan senang jika bisa mendukung seseorang yang mereka idolakan.

Tingginya tingkat kebahagiaan orang yang menikah kebanyakan disebabkan karena mereka memiliki keluarga dan anak. Orang yang menikah merasa bahagia dalam “kehidupan sehari-hari” mereka, meskipun mereka tidak memiliki penghasilan yang tinggi atau tidak memiliki kemampuan untuk berprestasi dibandingkan orang lain, tetapi ada banyak orang yang memiliki rasa kompetensi diri yang rendah yang kemungkinan dilihat dari sejauh mana dia merasa puas dalam mendukung dan menghidupi keluarga dan anak-anaknya.

Otaku yang belum menikah tanpa keluarga atau anak-anak bisa merasa puas dan bahagia dengan idola, pegulat profesional, dan tim olahraga favorit mereka yang mereka dukung sepenuh hati. Dalam arti tertentu, ini dapat dikatakan sebagai “keluarga semu / pengasuhan anak semu” yang bisa membuat mereka merasa bahagia dengan status serta apa yang mereka lakukan.

Pria non-otaku yang belum menikah juga memiliki kebahagiaan yang tinggi

Hanya karena mereka membelanjakan uang untuk idola atau tim yang didukung bukan berarti sang idola akan menjual, dan tim tidak akan tidak menang. Meskipun demikian, mereka tetap ingin melakukan itu. Terkadang rasionalitas dan efisiensi ekonomi tidak penting bagi seorang otaku. Mereka tidak harus yakin akan kesuksesan atau penghargaan di masa depan. Sebaliknya, mereka ingin bergembira bersama di masa depan yang tidak pasti. Bertindak tanpa sadar daripada berpikir atau mengambil risiko. Itu mungkin identitas sebenarnya dari kebahagiaan seorang otaku yang dilihat oleh orang non-otaku. Tetapi justru inilah yang menjadi ciri khas seorang otaku, mereka akan mencintai bidang yang mereka cintai dengan sepenuh hati dengan pengabdian yang sangat besar. Ini juga berlaku untuk orang yang akan mereka cintai dan menjadi pendamping hidup mereka.

Meskipun di atas membicarakan tingkat kebahagiaan otaku yang belum menikah lebih tinggi daripada tingkat kebahagiaan non-otaku yang belum menikah, pada kenyataanya ada beberapa pengecualian bagi pria lajang non-otaku yang tidak memiliki sesuai yang bisa membuatnya dikategorikan sebagai otaku bisa tetap sangat bahagia. Mereka adalah 30% pria pemilik “romantisme yang kuat” yang selama hidupnya selalu memiliki pasangan.

Secara awam, orang tidak menyebut mereka sebagai otaku, tetapi dari sudut pandang yang berbeda, mereka adalah “otaku cinta”. Bisa jadi mereka tidak menyisihkan waktu dan tenaga untuk membuat orang yang mereka cintai bahagia, tetapi mereka tidak akan berpikir sia-sia untuk berpesta di restoran yang bagus atau membeli hadiah yang mahal untuk cinta-nya. Pada akhirnya, semua orang adalah semacam otaku, hanya karena mereka memiliki bidang minat yang berbeda, dan orang yang memiliki sesuatu untuk menjadi “otaku” disebut “orang yang bahagia”.

*Semua foto yang digunakan adalah hasil jepretan sendiri dan masuk dalam library Doki Doki Station.

Related posts

Leave a Comment